Rabu, 29 Mei 2013

Oleh: Teguh Wibowo
“Kamu harus kuliah di ITB! Ngapain di IPB? Mau jadi petani? Mau nasib Kamu susah kayak bapakmu ini?”
Masih aku ingat amarah Bapak begitu menancap ke dalam hatiku. Waktu itu, lima belas tahun lalu, saat dimana aku tengah dalam kebimbangan memilih tempat dimana aku akan melanjutkan pendidikan.
Bapakku adalah petani tulen. Ia tidak bisa dibilang berhasil sebagai petani. Tanahnya memang begitu luas, namun itu tidak membuat keluarga kami mapan menjalani hidup. Harga produk pertanian yang fluktuatif menjadi penyebabnya. Disamping memang karena bapak sendiri tidak berbekal pengetahuan yang memadai dan tanpa inovasi tanam.
Seorang warga kampung sendiri memang ada yang telah sukses menjadi insinyur. Lulus dari ITB dan bekerja di sebuah perusahaan tambang milik negara asing. Bapak ingin aku mengikuti jejaknya, kuliah di ITB dan kelak bekerja pada perusahaan tambang itu.
Kemampuan sainsku memang lumayan. Di sekolah, aku selalu menduduki peringkat pertama. Nilaiku berkisar antara delapan hingga sempurna. Berbagai lomba sains pun telah aku juarai, dari tingkat provinsi hingga nasional.
Aku ingat suatu waktu sang insinyur itu datang bertamu ke rumahku. Kami memang masih memiliki hubungan saudara. Ia menemui bapak.
Di saat itu lah bapak mulai mengerti apa itu insinyur, bagaimana kerjanya, dan berapa penghasilannya. Dari perjumpaan itu, bapak menjadi begitu ingin menguliahkan aku di ITB untuk mengikuti jejak sang insinyur yang memang telah menjadi orang terkaya di kampungku.
Aku bergeming begitu lama, seakan menuruti saja kata-kata Bapak. Kepalaku mengangguk, namun hatiku tidak. Aku tidak ingin kuliah di ITB. Aku hanya ingin menjadi petani.
Sebulan kemudian, aku berangkat dari kampung menuju tempatku akan menempuh ilmu selama empat tahun ke depan. Aku diterima baik di ITB maupun di IPB.
***
Aku membohongi Bapak. Aku katakan kepadanya bahwa aku akan belajar di ITB sebagaimana yang dia mau. Nyatanya, Bogor lah yang menjadi tujuanku. Bukan kemauan bapak yang aku turuti, namun justru kata hatiku sendiri. IPB adalah tujuanku, sebuah perguruan tinggi yang menggeluti bidang-bidang pertanian.
Setahun berlalu. Dua tahun berlalu. Tiga tahun berlalu. Aku belajar di IPB tanpa sepengetahuan bapak. Ia masih mengira bahwa anaknya akan menjadi seorang insinyur sebagaimana yang sangat diinginkannya. Selama tiga tahun itu pula, aku terus-terusan membohonginya tanpa perlu takut kebohonganku itu akan terbongkar. Bapak tak mungkin mengunjungiku, ia bahkan tak tahu dimana pastinya aku berada. Yang ia tahu adalah, aku tengah belajar di ITB dan kelak akan menjadi insinyur untuk kemudian bekerja di perusahaan tambang. Terlebih lagi, usia bapak telah semakin tua.
***
Suatu hari, tak biasanya aku menerima telepon dari kampung. Paman yang meneleponku. Sebuah telepon yang sangat mengagetkanku.
“Bapakmu sakit keras, Nak. Kamu bisa izin pulang tidak? Ia ingin bertemu Kamu.” Terdengar sayup-sayup di telingaku kata-kata paman. Aku harus pulang kampung, menemui bapak yang tengah sakit keras.
Tak perlu begitu lama, aku telah sampai di terminal bus. Esok pagi aku harus sudah sampai di rumah. Bapak membutuhkan kehadiranku.
***
Bapak terbaring lemah di kamarnya. Ia kelihatan lebih tua daripada biasanya. Nafasnya berat, matanya sayu, kulitnya hangat. Namun, ia tak ingin dirawat di rumah sakit.
Aku menghampiri bapak. Kupegang tangannya, duduk bersimpu di sampingnya. Bapak tersenyum kepadaku.
“Sepertinya bapak tidak bisa melihatmu menjadi insinyur, Nak. Hidup bapak tidak akan lama lagi. Bapak akan segera menyusul ibumu.”
Aku tak kuasa menahan air mata mendengar ucapan bapak. Bukan hanya karena aku takut tak lama lagi bapak akan meninggalkanku selama-lamanya, namun juga karena kobohonganku sendiri. Bapak tak pernah menyadari bahwa anak kesayangannya, selama tiga tahun ini, telah membohonginya. Sebuah dosa yang masih terus membayangi hidupku hingga kini.
Aku berusaha menguatkan hati bapak. Namun, sedikitpun aku tak pernah mengatakan yang sebenarnya kepadanya. Sebentar lagi, aku memang akan menjadi insinyur, namun bukan insinyur sebagaimana yang bapak pikirkan. Aku akan menjadi insinyur pertanian, bukan insinyur pertambangan sebagaimana yang bapak impi-impikan itu.
Bapak meninggal dalam pelukanku sehari kemudian…
***
Pasca meninggalnya bapak, berbagai macam tekanan batin seakan menyelimuti hidupku. Seringkali muncul dalam ingatanku berbagai macam petuah bapak yang menyiratkan betapa inginnya ia agar aku menjadi seorang insinyur. Aku mengingkarinya, aku membohonginya, bahkan hingga ia meninggal dalam pelukanku sendiri.
Aku berusaha menepis tekanan-tekanan itu. Aku berusaha melawan bisikan-bisakan bapak dalam hatiku. Aku bulatkan tekadku, aku harus menjadi seorang yang berhasil. Aku tahu bapak tidak menginginkanku menjadi seorang insinyur pertanian, namun jika aku berhasil menjalaninya, barangkali bapak akan memaafkanku. Barangkali bapak akan tetap membanggakanku.
Aku tak perlu harus menunggu selama empat tahun lamanya untuk menyelesaikan kuliahku. Dalam kurun waktu tiga setengah tahun, kuliahku telah selesai. Hari itu aku diwisuda, menjadi salah satu lulusan dengan peringkat terbaik. Aku cukup bahagia dengan prestasi itu, meski begitu hambar rasanya diwisuda tanpa kehadiran orang tua ataupun sanak saudara.
Lulus dari kuliah, tantangan baru sudah menantiku. Berbagai macam tawaran pekerjaan dari beberapa perusahaan datang kepadaku. Tak ada yang membuatku tertarik. Aku lebih memilih untuk pulang kembali ke kampung saja. Aku ingin bertani disana, melanjutkan pekerjaan bapakku yang selama ini tak ada yang meneruskannya. Aku tetap ingin menjadi petani. Di kampungku sendiri. Di tanahku sendiri.
Beberapa teman seangkatanku memilih untuk bekerja di perusahaan-perusahaan itu. Aku tetap dengan jalanku sendiri, pulang dan bertani di kampung halaman.
***
Di kampung, lahan pertanian bapak sungguh sangat luas. Terdiri atas kebun dan sawah. Lahan-lahan itu kini terbengkalai begitu saja, tak ada yang merawat. Aku tergugah untuk merawatnya.
Berbagai macam ide dan konsep yang aku terima semasa kuliah ingin segera aku terapkan disana. Berbagai macam budidaya pertanian telah menggunung dalam benakku. Aku tak sabar untuk menerapkannya.
Hari itu aku mulai bertani. Orang-orang kampung seakan terkejut dengan apa yang aku lakukan. Adalah hal yang tidak biasa bagi mereka jika melihat seorang yang berpendidikan, mau berkotor-kotoran dan berpanas-panasan di kebun atau di sawah.
Sebagian besar pemuda kampung sendiri telah enggan untuk bertani. Mereka lebih memilih untuk merantau ke Jakarta, bekerja sebagai tukang bangunan atau menjadi buruh di pabrik-pabrik tekstil. Hasil pertanian yang rendah membuat mereka malas untuk bertani. Beberapa dari mereka justru gengsi untuk bertani. Beberapa yang lain malah merendahkan profesi yang ditekuni orang tua mereka sendiri itu.
Jumlah petani di desa pun telah menurun drastis. Pemuda-pemuda kampung kini enggan memegang arit atau cangkul. Arit dan cangkul itu ditinggalkannya dan digantikan dengan alat-alat bangunan atau mesin jahit di ibukota.
Aku justru sebaliknya. Di saat mereka mulai berangkat ke kota, aku justru kembali ke kampung.
Berbagai macam cibiran aku dengar dari beberapa warga kampung. Asumsi mereka selama ini, aku akan menjadi seorang pekerja kantoran, berpakaian necis, berdasi, dan bersepatu rapi. Paling tidak, aku akan menjadi pegawai negeri. Untuk apa sekolah kalau hanya toh akhirnya tetap menjadi petani, begitu yang ada dalam pikiran mereka. Nyatanya, penampilanku memang tak jauh berbeda dengan mereka. Aku tak bergeming. Aku acuhkan semua perkataan mereka.
Dalam tahap awal, sisa-sisa tanaman kebun yang ditanam bapak, aku jual semuanya. Hasilnya akan menjadi tambahan modal bagiku untuk mengganti tanaman-tanaman itu dengan tanaman yang baru. Aku mengajak dua orang yang dahulu biasa membantu bapak untuk membantuku.
Berbagai macam tanaman yang aku dapat dari balai-balai penelitian aku tanam dalam kebunku. Tanaman kopi, karet, kakao, menjadi tiga tanaman utama. Di sekitarnya juga aku tanam berbagai macam pepohonan berkayu keras, seperti sengon, gaharu, dan jati. Aku merawat tanaman-tanaman itu sesuai dengan standar perawatan yang aku dapat semasa kuliah.
Tiga tahun awal adalah masa-masa yang sulit bagiku. Tanaman-tanaman yang aku tanam itu belum juga memberikan hasil. Tanaman-tanaman itu baru akan memberikan hasil pada tahun keempat. Aku tak mau menunggu selama itu.
Beberapa lahan yang tersisa, aku bangun peternakan ayam petelur. Beberapa yang lain, aku budidayakan jamur tiram. Untuk sawah, aku tanami padi, jagung, juga sayur-sayuran. Semuanya aku kelola dengan seoptimal mungkin. Orang-orang yang membantuku tak cukup hanya dengan dua orang, aku mesti mempekerjakan sampai dengan sepuluh orang setiap harinya.
Jerih payahku mulai memberikan hasil beberapa tahun kemudian. Kebunku tampak menghijau dan terhampar dengan suburnya. Ternakku kini bukan lagi hanya ternak ayam, aku kembangkan pula peternakan sapi dan kambing etawa. Usaha jamur tiramku juga menuai hasil yang lumayan. Setiap hari bisa dipanen untuk kemudian dikemas dan didistribusikan ke pasar-pasar, beberapa bahkan sampai merambah ke luar kota.
Kopi robusta yang aku tanam juga memberikan hasil yang lumayan setiap tahunnya. Aku bekerja sama dengan sebuah perusahaan pengolah kopi. Aku rutin mengirimkan kopi-kopi hasil dari tanah bapakku kepada perusahaan-perusahaan itu. Semua yang aku kerjakan, sedikit atau banyak, mampu memberikan hasil yang lumayan hingga kemudian aku mendapat penghargaan dari pemerintah sebagai petani teladan.
Bersyukur, kerja keras dan tekadku pada akhirnya seakan terbayar lunas.
***
Siang ini, kutatap kembali makam bapak yang berdampingan dengan makam ibuku. Aku bersimpuh di depan makam keduanya. Mereka seolah memandangku. Aku merunduk mengingat mereka berdua.
Kudekatkan tubuhku ke makam bapak, kupegang nisannya.
Bapak, aku mohon maaf telah membohongi Bapak sekian lamanya. Apakah Bapak masih menginginkan aku menjadi seorang insinyur tambang? Aku tidak memenuhi keinginan Bapak itu. Apakah Bapak bisa tenang disana?
Aku ingkar kepada maksud baik Bapak itu. Membalas budi baik Bapak pun aku belum mampu. Bapak belum juga naik haji sampai Bapak meninggalkanku, sebelum aku mampu membantu Bapak berangkat kesana. Tuhan terlalu cepat memanggil Bapak kembali.
Bapak, apa Bapak sekarang ridho dengan apa yang aku kerjakan? Aku bukan insinyur tambang. Aku tidak bekerja di kantor atau di pertambangan. Aku bekerja seperti juga Bapak dahulu, bergelut dengan kotornya tanah dan panasnya sawah.
Aku ingin seperti Bapak sejak dulu kala. Di saat aku sering mengantarkan bekal makanan untuk Bapak dan pembantu-pembantu Bapak di kebun dan di sawah Bapak. Aku begitu tertarik dengan apa yang Bapak kerjakan. Tidak sadarkah Bapak bahwa bertani adalah suatu pekerjaan yang sangat mulia? Itu yang aku pikirkan sejak dulu sehingga aku bertekad menjadi petani seperti Bapak, sehingga aku membohongi Bapak sekian tahun lamanya sampai Bapak meninggalkanku.
Aku mohon ridho dari Bapak atas apa yang aku kerjakan. Meski Bapak telah tiada, bayang-bayang dosa seringkali menghampar dalam mimpi-mimpiku. Aku mohon kepada Bapak, maafkan salahku, maafkan dustaku kepada Bapak, agar aku tenang menjalani hidupku.
Bapak mesti tahu apa yang aku kerjakan. Usaha itu tak hanya bermanfaat untuk diriku sendiri, tetapi juga telah membuka sebuah lapangan pekerjaan baru di kampung kita. Orang-orang kini tak lagi berpindah ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Aku sudah bisa mempekerjakan mereka di kampung mereka sendiri, tak perlu harus jauh dari anak dan istri mereka. Kampung kita telah jauh lebih maju daripada dulu.
Aku mohon maaf kepadamu, Bapak. Selain karena telah mengingkari perintahmu, aku juga belum mampu membalas jasa-jasamu dalam membesarkanku. Aku mohon ridhomu…
Lamunanku terkagetkan dengan kedatangan Alif, putra kecilku. Ia menyusulku ke makam bersama dengan ibunya. Dibawanya bola kecil kesayangannya. Ia menghampiriku, memelukku dari belakang.
“Ayah sedang mendoakan kakek-nenekmu disini, Nak. Ayuk, kita doakan kakek-nenek bareng-bareng.” Aku angkat Alif agar berdiri di sampingku. Istriku pun mendekat. Kami bertiga berjejer, berdoa bersama-sama.
Selesai berdoa, aku elus rambut merah di kepala Alif. Aku pandangi wajah putih bersihnya. “Besok kalau sudah besar mau jadi apa, Nak? Mau jadi petani seperti Bapak atau jadi apa?”
Alif menyengir. Ia berikan bola kecil yang dipegangnya kepadaku. Aku tersenyum kepadanya. Mungkin saja itu menjadi tanda bahwa dia ingin menjadi pemain bola.
Kami bertiga beranjak dari makam bapak dan ibuku. Sebelum pulang ke rumah, kami ingin mampir dahulu ke kebun kopi. Disana, para pekerja tengah bersiap memanen kopi yang sudah memerah.

Taken of : http://teguhalkhawarizmi.wordpress.com
Posted by Sugiyarto bin Sukarno On 02.22 No comments

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

    Blogger news

    Blogroll

    About