Kamis, 02 Mei 2013


Iklim tropis merupakan tipe iklim di bumi yang daerahnya berada di sekitar equator. Menurut wilayahnya daerah tropis berkisar antara 23,5° lintang utara dan 23,5° lintang selatan. Iklim tropis merupakan sebuah tipe iklim yang dicirikan oleh suhu dan kelembaban yang tinggi sepanjang tahun melebihi daerah-daerah lain pada lintang tinggi. Suhu rata-rata tahunan terendahnya yaitu 18°C.

Indonesia merupakan negara beriklim tropis. Suhu harianya dapat melebih 35°C atau yang secara umum suhu lingkungan bisa berfluktuasi antara 29°C hingga 36°C dan kelembabannya 70-80%. Pemeliharaan unggas di negara-negara tropis, suhu lingkungan merupakan stressor utama dengan kisaran suhu yang luas dari 35°C- 43°C untuk waktu yang lama.
Heat Stress (Cekaman panas)

Kondisi iklim itu berpotensi untuk terjadinya cekaman panas pada pengembangan ayam broiler. Pada suhu lingkungan 28°C selera makan akan menurun 12% dan apabila kelembabannya tinggi maka selera makan akan menurun 50%. Suhu 28°C adalah suhu kritis atas yang jika suhu lingkungan melebihi batas ini, angka sakit dan kematian meningkat, sedangkan pertumbuhan menurun. Pada suhu mencapai 39°C kematiannya tinggi sekali.



Heat stress atau cekaman panas merupakan kondisi unggas yang kepanasan karena suhu dan kelembapan lingkungan yang melebihi kisaran zona nyaman pertumbuhan unggas. Suhu lingkungan untuk pemanas pada tingkat penetasan adalah 35°C, dan hanya 4 minggu setelah penetasan, suhu tersebut dapat menyebabkan heat stress pada ayam broiler. Daerah nyaman bagi unggas menurun dari 35°C saat penetasan menjadi 24°C pada umur 4 minggu.

Pada ayam broiler yang berumur di atas 3 minggu, keadaan suhu lingkungan optimum untuk pertumbuhan berkisar antara 20-25°C dengan kelembaban berkisar antara 50-70%. Ayam broiler akan mengalami cekaman panas serius bila suhu lingkungan lebih tinggi dari 32°C. Pada umur sekitar 4 minggu, ayam broiler cenderung mengalami heat stress lebih tinggi. Semakin dewasa, bobot ayam semakin meningkat yang akibatnya memproduksi panas lebih banyak. Situasi ini akan semakin parah saat mendekati akhir siklus produksi saat ternak mendekati bobot untuk dijual.

Panting (terengah-engah) merupakan respon yang terlihat pada unggas selama terpapar panas di atas kisaran thermonetral. Ini merupakan bentuk yang khusus dari respirasi yang melepaskan panas akibat pendinginan evaporasi pada permukaan mulut dan jalur pernafasan. Selama temperatur lingkungan tinggi, broiler meningkatkan pernafasannya melalui panting untuk mempertinggi pendinginan secara evaporasi. Tingkat pernafasan dapat bervariasi dari 25 x bernafas/menit untuk unggas pada lingkungan thermoneutral menjadi lebih dari 250 x bernafas/menit pada keadaan heat stress. Ayam juga berusaha memperluas area permukaan tubuh. Hal ini ditunjukkan ayam dengan melebarkan atau menggantungkan sayapnya. Usaha ayam ini kurang memberikan hasil yang optimal. Alasannya ialah suhu tubuh ayam dengan suhu lingkungan kandang tidak berbeda nyata, akibatnya aliran panas tubuh ke lingkungan kandang (secara radiasi) menjadi kurang optimal.

Kondisi heat stress akan berpengaruh pada penurunan konsumsi ransum, meningkatkan konsumsi air minum, meningkatnya frekuensi pernafasan, menghambat kenaikan berat badan, meningkatnya kasus penyakit pernafasan dan pada kondisi yang lebih buruk akan menyebabkan kematian. Ayam yang mengalami stres suhu tubuhnya lebih tinggi. Selera makan turun 1,5% untuk kenaikan setiap 1°C di atas 20°C dan metabolisme akan meningkat 20-30%. Ayam akan minum lebih banyak, laju pernafasan meningkat, denyut jantung menurun, dan kotoran semakin basah sehingga mempercepat kehilangan air dan elektrolit tubuh pada broiler. Hal ini akan menyebabkan keseimbangan kimia tubuh yang normal terganggu. Pada kondisi heat stress ayam memerlukan tambahan elektrolit untuk menjaga keseimbangan suhu tubuhnya.
Solusi

Diperlukan tindakan khusus untuk meningkatkan ketahanan tubuh ayam selama musim panas. Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain :
Pemberian air minum pada suhu 12,8°C setelah 15 menit dapat menurunkan suhu tubuh ayam broiler (Beberapa peternak ayam broiler memasukkan es balok ke dalam air untuk minum ayam sambil mengontrol temperatur air berbekal alat pengukur suhu).
Saat kondisi panas kurangi jumlah ransum yang diberikan dan berikan ransum saat suhu menurun. Perlu diperhatikan jumlah ransum yang diberikan harus sesuai standar, hanya saja waktu pemberiannya yang diubah. Jika perlu ransum diberikan pada malam hari dengan memberikan tambahan pencahayaan.
Berikan nutrisi tambahan, suplai elektrolit dan vitamin perlu ditambahkan saat heat stress, baik melalui air minum atau ransum (Vitamin yang diperlukan saat heat stress antara lain vitamin A, B, C, D, E, K, biotin, dan niacin. Sedangkan elektrolit diperlukan untuk menjaga kestabilan pH darah yang terganggu akibat menurunnya kadar CO2 di dalam tubuh ayam. Selain itu elektrolit juga membantu meningkatan retensi air dan mencegah dehidrasi.
Tingkatkan biosecurity (Saat suhu tinggi, perkembangan bibit penyakit di dalam tempat air minum menjadi lebih cepat. Oleh karenanya jadwal pembersihan dan desinfeksi tempat air minum sebaiknya ditingkatkan. Begitu juga disinfeksi kandang. Saat ada ayam pilih disinfektan yang aman).
Posted by Sugiyarto bin Sukarno On 18.47 No comments

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

    Blogger news

    Blogroll

    About